Dilematika Gendercide: Siapkah India menjadi “The New Giant of Asia”?

Oleh: Fransisca Anggun S
(Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Slamet Riyadi Surakarta)

India adalah negara yang digadang-gadang menjadi ‘The New Giant of Asia’, yang mendasari India mendapatkan julukan tersebut adalah India telah menunjukan peningkatan dalam banyak aspek. India saat ini pengalami pertumbuhan yang sangat pesat.

Indikator perekonomiannya bahkan mencapai 9,6% pada tahun 2006-2007, semakin meningkatnya devisa negara sebesar US$312,79 M, dan semakin derasnya arus masuk investasi luar ke dalam India sebesar US$35M pada tahun 2008-2009. India saat ini menjadi negara yang dapat bersaing dengan China.

Di tengah badai krisis ekonomi 2008-2009, India merupakan salah satu dari sedikit negara yang berhasil bertahan menghadapi krisis dan mempertahankan tingkat pertumbuhan di atas 6 persen (KBRI New Delhi, 2018). Pasar India sendiri diperkirakan akan berada di kedudukan 5 besar pada tahun 2025 yang pada tahun 2018 India telah berhasil menduduki peringkat 12, dan mendapat peringkat ke 41 dalam industrial Competitiviness (UNIDO, 2018).

India telah berhasil menyalip salah satu anggota G7 yakni italia  yang berada di posisi 8, PDB (Produk Domestik Bruto) India mencapai US$  2,08 M, sementara Italia PDB-nya sebesar US$ 1,8 M. Pada tahun 2016 India telah berhasil perekonomian motor dan skuter dengan China (Tirto.id, 2017). Kemajuan perekonomian yang pesat inilah yang menjadikan India dijuluki sebagai New Giant of Asia.

Tidak cukup di perekonomiannya saja, India telah menunjukkan banyak kemajuan dinegaranya. Kemiskinan di India pun berhasil menurun. Pemerintah India mengumumkan tingkat kemiskinan di India sebesar 400 jt di tahun 2005 sekarang menjadi 200jt di tahun 2012, hal ini menunjukkan penurunan dari 33% menjadi 22% dari jumlah populasi di India atau turun 2% setiap tahunnya.

Semakin kuatnya militer di India juga menjadi salah satu alasan India digadang-gadang sebagai The New Giant of Asia. Menurut Global Fire Power (GFP), India menempati peringkat ke-4 sebagai negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia dari 137 negara dan menjadi negara dengan militer terkuat ke-2 setelah India (Global Fire Power, 2019). Selain Militer India yang bertambah kuat Sains dan teknologi India yang berkembang dengan pesat.

India telah menginvestasukan sebesar US$ 150 jt di sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Selain itu India memiliki beberapa perusahaan dunia yang dipimpin oleh orang-orang India, Yang paling dikenal tentu saja CEO Google Sundar Pichai dan CEO Microsoft Satya Nadella. Melihat dari penjelasan diatas, India benar-benar siap untuk dijuluki sebagai Raksasa baru di Asia dan bahkan berani bersaing di China, tapi apakah benar-benar India siap?.

Setelah diputar film dokumenter selama kurang lebih 30 menit, saya dikejutkan dengan Gendercide yang ada di India. Gendercide adalah penghapusan atau pengeliminasian terhadap perempuan secara diam-diam melalui aborsi selektif jenis kelamin bayi, pembunuhan bayi, mengabaikan bayi perempuan secara besar-besaran atau bagi perempuan yang lebih dewasa akan dibatasinya akses makanan atau tempat tinggal (CBE International, 2015).

Di India, saat bayi terlahir adalah perempuan, kata “senang” mungkin akan jarang didengar, apa yang mereka lakukan adalah melenyapkan bayi itu karena bayi itu terlahir sebagai ‘perempuan’ bukan ‘laki-laki’. Kelahiran anak laki-laki  lebih disukai daripada anak perempuan karena anak laki-laki dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan dapat meneruskan nama keluarga.

Laki-laki dianggap sebagai sosok yang kuat, untuk bekerja keras dan menaikan martabat keluarga, hal itu berbeda dengan kelahiran anak perempuan yang dianggap lemah dan dianggap sebagai momok bagi keluarga, sehingga di India sendiri laki-laki diagung-agungkan dan perempuan sebagai nomor 2 atau kesekian. Dalam studi Internasional yang dilakukan oleh Thompson-Reuters Foundation, India menjadi negara ke-4 yang paling berbahaya bagi wanita (Walanda Sitorus, Jurnal 2011).

Mengapa berbahaya? Salah satu alasannya adalah adanya Gendercide ini, Gendercide dilakukan karena beberapa alasan; (a) kemiskinan yang tinggi di India, perempuan dianggap tidam mampu untuk bekerja, laki-laki yang dianggap mampu untuk mencari nafkah keluarga; (b) anak perempuan dianggap tidak menguntungkan bagi orang tua, keluarga di India beranggapan bahwa keluarga mereka tidak akan seimbang tanpa kehadiran seorang putra, yabg nantinya akan menambah pemasukan dikeluarganya dan melanjutkan nama baik keluarganya.

Pada awalnya perempuan di lenyapkan dengan cara yang tidak manusiawi, beberapa dengan cara memberikan racun, menutupinya dengan kain, menimbunnya dengan beras, dll. Mereka beranggapan bahwa lebih baik mereka meninggal saat awal daripada harus merasakan peliknya atau menderita saat dewasa.

Namun, dengan adanya teknologi medis yang berkembang dengan pesat warga India yang menginginkan anak laki-laki dapat melakukan selektif gender dengan mudah sehingga tidak perlu menunggu saat bayi lahir. Saat di kandungan akan terlihat apakah bayinya laki-laki atau seorang perempuan, apabila seorang perempuan makan akan segera dilakukan tindakan aborsi, proses ini jauh lebih diterima oleh masyarakat sosial India.

Hal di atas juga menunjukkan bahwa bukan hanya warga miskin di India yang melakukan Gendercide tetapi masyarakat berpendidikan pun turut serta melakukan dan ‘memaklumkan’ kejadian ini. Hal ini dikarenakan sistem sosial yang terbentuk di negara India, budaya patriarki melekat kuat di ranah sosial India menurut penelitian Lancen Global Health, anak perempuan di India menerima pendidikan yang kurang, memiliki gizi yang lebih buruk, dan kurang mendapatkan perhatian medis daripada anak laki-laki.

Karena budaya patriarki tersebut mulai timbul deskriminasi terhadap perempuan dan bias gender yang ada di India yang menyebabkan tingkat kematian pada anak perempuan dibawah usia 5 tahun cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Budaya patriarki di India sangat kental dengan sistem Dowry atau mahar, perempuan diharuskan memberikan mahar ke laki-lakinya, besarnya mahar yang diberikan juga bergantung dengan tingginya derajat dari sang lelakinya. Hal ini yang menjadikan alasan bagi para keluarga untuk melakukan gendercide, dimana laki-laki diposisi ini lebih diuntungkan dibanding pihak wanitanya.

Para laki-laki di India masih membutuhkan para perempuan untuk melahirkan seorang anak, tetapi mereka juga membunuh para anak perempuan. Kondisi di India saat inilah terjadi ‘kekurangan perempuan’, fenomena ini lagi-lagi menjadikan perempuan sebagai korban dimana perempuan dipaksa untuk menikahi banyak lelaki (poliandri) bahkan menikahi dengan sanak saudara laki-lakinya. Kesenjangan gender seperti ini akan terus terjadi apabila tidak ada kesadaran didalam masyarakatnya.

Perempuan hanya dipandang sebagai beban keluarga, yang tidak diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Perempuan selalu dipaksa untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak keluarga, dan tidak memberikan kesempatan bagi para perempuan untuk menentukan apa pilihan mereka, bagaimana mereka menjalankan kehidupan mereka.

India masih harus menyelesaikan permasalahan sosial di dalam negaranya terlebih dahulu. Perekonomian yang meningkat, militer yang mumpuni, teknologi yang berkembang pesat, oerdagangan yang mampu disaingkan dengan China dan AS menurut saya masih belum bisa memberikan label The New Giant of Asia

Ini karena masih ada permasalahan diskriminasi gender yang masih tinggi di India, keadilan gender masih harus ditegakkan di India, keadilan gender yang perlu diperhatikan pemerintah India adalah hak atas pendidikan, pekerjaan atau perwakilan di politik, dan juga memperhatikan mengenai perawatan, vaksinasi, dan nutrisi bagi anak perempuan sebagai penunjang mereka untuk bertahan hidup.

India masih perlu membenahi permasalahan-permasalahan gender yang ada ada dinegaranya, kesejahteraan atau kehidupan  perempuan sama pentingnya dengan meningkatkan perekonomian, teknologi, militer, dll. Karena sama saja bohong apabila negara hanya menonjolkan 1 sisi dan menutupi masalah yang sebenarnya sangat krusial, seperti di India.

Daftar Pustaka:

Jones Adams, 2000. Gendercide and Genocide. Journal of Genocide Research, 2: 2 (2000). Diakses pada 12 Maret 2020.

Grech Victor, 2014. Gendercide – A review of the missing women. Malta Medical Journal Volume 26 Issue 01 2014. Diakses pada 12 Maret 2020

Norwi Putri, 2017. IMPLEMENTASI PROGRAM COOPERATIVE AND ASSISTANCE FOR RELIEF EVERYWHERE (CARE) INTERNATIONAL DALAM MEMPERBAIKI KEHIDUPAN SOSIAL PEREMPUAN DI INDIA TAHUN 2013-2015. JOM FISIP Vol. 4 No. 1 – Februari 2017. Diakses pada 12 Maret 2020.

Jacobs Aliyah, 2015. An Overview of Gendercide. Diakses dari https://www.cbeinternational.org/blogs/overview-gendercide#_ftn3, pada 12 Maret 2020

GFP, tt. India Military Strength, diakses dari https://www.globalfirepower.com/country-military-strength-detail.asp?country_id=india , pada 11 Maret 2020.

Rachmattunisa, 2019. 12 Alasan India bakal jadi Raksasa Dunia. Diakses dari https://m.detik.com/inet/business/d-4615361/12-alasan-india-bakal-jadi-raksasa-dunia/1/#search , pada 11 Maret 2020

Debora Yantina, 2017. Yang Sudah Dilakukan India Supaya Jadi Kekuatan Global. Diakses dari https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/yang-sudah-dilakukan-india-supaya-jadi-kekuatan-global-czHX, pada 11 Maret 2020

Share

HI Unisri

Website ini adalah wadah publikasi hasil karya tulis para mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Dibuat untuk berbagi ide dan pemikiran, serta sebagai sumbangsih pada ilmu pengetahuan.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *