Strategi Militer Pakistan dan Perselisihan Pakistan India

Ditulis oleh “Angela Lady”
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Pakistan merupakan negara yang terletak di wilayah Asia Selatan. Pakistan merdeka pada tahun 1947 dengan populasi muslim yang didominasi oleh orang Indo-Iran. Negara ini juga memiliki multi-etnis dan memiliki variasi dari segi geografis. Pada awal kemerdekaan Pakistan menghadapi pergolakan politik domestik dan konfrontasi regional yang panjang. Hingga muncullah berbagai konflik yang melibatkan Pakistan dan India.

Perselisihan antara Pakistan dan India inilah yang menjadi sejarah bagi negara tersebut untuk tetap bisa mempertahankan negaranya. Konflik ini sering muncul akibat polemik pembagian kekuasaan wilayah Kashmir pasca kemerdekaan tahun 1947. Hal ini menimbulkan adanya konfrontasi militer yang mengakibatkan adanya security dilemma antara kedua negara tersebut.

Melihat India dengan perlengkapan senjata militernya membuat Pakistan juga berusaha untuk meningkatkan kekuatan militernya baik senjata konvensional maupun senjata nuklir. Diperkirakan hampir 60 persen persenjataan Pakistan berasal dari China (Agussalim & Alfadh, 2011). Kerjasama antara Pakistan dan China ini merupakan bentuk keseriusan China untuk membantu Pakistan dalam mengembangkan persenjataannya. Hal ini dilakukan untuk melawan India demi memenangkan kekuasan wilayah Kashmir.

Pada tahun 1956 Pakistan mulai membangun proyek nuklir melalui Pakistan Atomic Energy Comission (PAEC) yang mendapat aliran dana dari Atoms for Peace Proposal atas inisiasi Presiden Amerika Serikat Dwight Eisenhower waktu itu. Dalam perkembangannya Pakistan juga menjalin hubungan dengan Korea Utara untuk penyempurnaan Rudal Ghauri-1 pada pertengahan 1980an dan mengadopsi Rudal M-11 buatan China pada tahun 1990an.

Pada tahun 1960an, konflik senjata antara India dan Pakistan mulai pecah. Dalam konflik ini tahun 1962 India mengalami kekalahan dengan kerugian materil yang cukup besar. Hal ini menjadikan India berusaha untuk bangkit dan meningkatkan kerjasama dengan negara negara Eropa untuk dukungan militer. Namun dalam hal ini Pakistan justru mengalami kemerosotan dukungan diplomatic dengan Amerika Serikat yang kecewa karena dukungan militer tersebut disalahgunakan oleh Pakistan untuk melawan India.

Pengembangan kekuatan militer yang dilakukan Pakistan tak lepas dari konflik berkepanjangan dengan India. Hal ini membuat Pakistan ingin mengimbangi kekuatan dari India oleh karena itu anggaran militer Pakistan ditingkatkan sejak tahun 2010 yang bermula dari 444. 2 miliar meningkat menjadi 495.2 miliar pada tahun 2011 (Tribune.com, 2011). Peningkatkan anggaran ini dilakukan sebagai respon dari kenaikan anggaran militer 12% dari India pada tahun 2011 untuk membeli dan mengembangkan persenjataan mereka.

Peningkatkan anggaran ini juga untuk memenuhi agenda Pakistan yang lain yaitu untuk memberantas pemberontak kelompok teroris Taliban dan Al-Qaeda di kawasan barat laut. Sejak tahun 2011 hingga tahun 2016 anggaran militer Pakistan dialokasikan kedalam bidang militer angkatan darat sebesar 47%, angkatan laut sebesar 15%, dan angkatan udara sebesar 25% (timesosislamabad.com, 2016).

Anggaran militer tersebut tak hanya dialokasikan kedalam tiga sektor saja namun juga kedalam sektor pengembangan nuklir. Senjata nuklir menjadi fokus utama pemerintah Pakistan guna mencegah adanya kemungkinan ancaman yang akan ditimbulkan oleh India.

Pada tahun 2014 itu Pakistan juga melakukan kerjasama dengan Rusia untuk meningkatkan pembelian senjata. Pakistan berencana untuk membeli pesawat tempur jenis SU-35 dan SU-37 dan melakukan modernisasi tank. Dengan adanya perencanaan ini diharapkan mampu menambah kekuatan pasukan tempur udara. Hal ini dipicu karena India melakukan pembeliaan senjata dari Amerika Serikat.

Melihat perkembangan militer ini, baik India maupun Pakistan menyadari adanya potensi ancaman pada kedua negara tersebut. Pakistan sebagai negara yang dibawah India tidak mau ketinggalan karena potensi kemajuan militer India.

Peningkatkan militer di Pakistan berhasil menempati posisi ke-15 dari 137 negara yang turut ditinjau oleh Global Fire Power. Atas dukungan China yang menyuplai roket ganda dan tank perang utama dan pendukung militer Pakistan lainnya seperti Amerika Serikat, Arab Saudi, Rusia, Iran dan Italia yang juga membantu dalam pengadaan alat pertahanan militer (Tirto.com, 2019). Peningkatan anggaran militer yang diambil dari 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto.

Analisis Studi Kasus Konflik Pakistan-India

Dalam artikel Merdeka (2019) menuliskan bahwa militer Pakistan dituduh oleh India dan negara-negara Barat memelihara kelompok- kelompok militan yang dimanfaatkan sebagai pemegang saham termasuk kelompok Taliban Afghanistan dan Lashkar e-Taiba yang mengatur serangan Mumbai pada tahun 2008 yang menewaskan lebih dari 160 korban jiwa.

Satgas keuangan menuntut pemerintah Pakistan lebih tegas untuk menghadapi Lashkar e-Taiba dan Jaish e-Muhammad kelompok militan yang mengklaim tanggungjawab atas seranfan 14 Februari di Kashmir yang menewaskan 42 tentara militer India. Melihat hal ini pemerintah Pakistan berjanji mengambil tindakan yang lebih tegas untuk menghadapi kelompok- kelompok militan yang beroperasi di wilayah Pakistan.

Rencana ini dilakukan oleh Pemerintah Pakistan atas permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dank arena kekhawatiran atas kecaman pihak internasional yang melihat konflik tersebut. Oleh karena itu pemerintah Pakistan berencana untuk membekukan asset kelompok militan dan mengambil alih sekolah- sekolah agama yang berkaitan dengan kelompok tersebut. Sebagai tindakan awal, Pakistan berhasil menangkap 44 anggota kelompok militan termasuk saudara dan anak laki-laki pemimpin dari kelompok Jaish e-Muhammad, yaitu Masood Azhar (Merdeka.com, 2019).

Tindakan yang dilakukan pemerintah Pakistan merupakan tindakan yang tepat untuk mengurangi operasional kelompok- kelompok militan yang menungangi konflik Kashmir. Hal ini juga dilakukan untuk tidak memperkeruh hubungan antara Pakistan dan India.  Melalui tindakan tegas ini diharapakan Pakistan semakin lama mampu mengatasi kelompok militant yang justru merugikan negaranya.

Referensi:

Share

HI Unisri

Website ini adalah wadah publikasi hasil karya tulis para mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Dibuat untuk berbagi ide dan pemikiran, serta sebagai sumbangsih pada ilmu pengetahuan.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *